KIAT MENGATUR POLA HAID SAAT HAJI DAN UMRAH

18 02 2009

dr H Rianto SpOG
SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD Dr. R. Koesma Tuban

1. PENDAHULUAN
Mengerjakan ibadah haji adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Berbeda dengan kaum lelaki, wanita muslim yang sedang haid tidak dibenarkan melakukan beberapa rukun dari ibadah haji, sesuai dengan Firman Allah tentang dasar hukum darah haid. Tetapi, kebanyakan kaum wanita masih sulit membedakan darah haid dan darah bukan haid. Darah haid adalah darah yang keluar dari rahim yang sehat, yang juga disebut darah kotor, sedangkan darah yang bukan haid adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita yang disebabkan oleh suatu penyakit, yang dalam ilmu kedokteran disebut sebagai perdarahan, atau istilah agama Islam disebut sebagai darah istihadah. Wanita yang sedang berdarah istihadah, dibenarkan baginya untuk melakukan kegiatan ibadah apapun, kecuali bersanggama. Berkat kemajuan ilmu, maka datangnya haid sudah dapat ditunda ataupun dimajukan sehingga kaum wanita dapat menjalankan semua rukun ibadah haji yang diwajibkan. Namun perlu ditekankan di sini, bahwa perbedaan antara perdarahan haid dan bukan haid serta prinsip penundaannya masih menimbulkan perbedaan pendapat.
Cara sederhana untuk menunda haid adalah dengan memberikan obat – obatan berupa tablet mengandung komponen progestin atau yang mengandung komponen progestin dan estrogen. Penggunaan preparat hormon untuk menunda haid dalam waktu singkat cukup aman dan jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Efek samping yang sering ditemukan adalah terjadinya perdarahan bercak (spotting), yang kaum wanita disebut sebagai “gagal”, sehingga merupakan halangan untuk melakukan ibadah. Padahal perdarahan tersebut terjadi akibat efek samping penggunaan hormon sehingga tidak membatalkan ibadah.
Penggunaan progestin hampir 50% menyebabkan perdarahan bercak sedangkan pada penggunaan kombinasi estrogen dan progestin, perdarahan bercak yang terjadi lebih sedikit. Karena perdarahan bercak yang terjadi tersebut tidak membatalkan ibadah maka tidak perlu dilakukan tindakan apapun. Sediaan lain yang jarang atau hampir tidak pernah menimbulkan perdarahan bercak adalah GnRH agonis (GnRHa) yang diberikan secara intramuskuler atau subkutan satu bulan satu kali.
Agar penundaan haid sesuai dengan yang diinginkan atau dengan kata lain tidak mengalami “kegagalan”, maka perlu diketahui cara penggunaan obat – obatan hormon tersebut.

Mekanisme Perubahan Pola Haid Pada Penggunaan Hormon
Progestin dan PKK (Pil Kontasepsi Kombinasi) merupakan preparat yang biasa digunakan untuk mengatur siklus haid saat ibadah haji atau umrah. Pemahaman fisiologi siklus haid dan terjadinya amenorea pada kehamilan sangat diperlukan agar usaha ini memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Tiga hal penting yang menjadi dasar adalah :
1. Estrogen dan progesteron berperan bersama pada endometrium saat siklus haid.
2. Umur korpus luteum sebagai penghasil estrogen dan progesteron endogen saat siklus haid tidak lebih 14 hari.
3. Jika terjadi kehamilan korpus luteum dipertahankan oleh hormon hCG sampai plasenta terbentuk.

Cara merubah pola haid
a. Memundurkan atau menunda haid
Yang paling mudah dilakukan dalam merubah pola haid adalah memundurkan / menunda siklus haid. Unutk tujuan ini dapat diberikan progestin atau pil kontasepsi kombinasi (PKK) mulai hari ke – 5 siklus haid atau paling lambat 14 hari sebelum siklus haid yang akan datang dan pemberiannya baru dihentikan ± 3 hari sebelum siklus haid yang diinginkan.
Pemberian progestin atau kombinasi estrogen dan progestin eksogen sejak awal siklus haid akan menekan gonadotropin, sehingga produksi estrogen dan progesteron endogen oleh ovarium tertekan. Hal ini menyebabkan endometrium tidak akan menebal dan dipertahankan untuk tetap stabil sehingga tidak terjadi haid sampai konsumsi obat dihentikan. Perdarahan lucut akan terjadi ± 3 hari setelah obat dihentikan. Perhatian harus diberikan terhadap lama waktu ibadah, karena ada yang panjang ± 40 hari, dan ada yang pendek sekitar 1 – 2 minggu, misalnya pada ibadah haji ‘plus’ atau umroh.
Bila progestin atau PKK diberikan 14 hari sebelum siklus berikutnya maka progestin atau PKK bersama – sama dengan estrogen dan progesteron yang dihasilkan korpus luteum akan mempertahankan lapisan endometrium untuk tetap stabil dan tidak terlepas. Perdarahan lucut akan terjadi setelah korpus luteum berdegenerasi dan progestin atau PKK dihentikan selama ± 3 hari.
Pemberian preparat progestin saja dapat menyebabkan efek samping perdarahan sela yang terjadi akibat lapisan endometrium yang terlalu tipis
b. Memajukan haid
Cara ini jarang sekali digunakan karena sebagian besar wanita ingin memundurkan siklus haidnya. Untuk tujuan ini dapat diberikan progestin atau PKK mulai hari ke – 5 siklus haid dan dihentikan pada hari ke – 19 sehingga siklus haid akan lebih cepat ± 7 hari dari biasanya.

Masalah Yang Terjadi Pada Penggunaan Hormon Dan Penanganannya

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.