SANG PENJUAL TEMPE

1 01 2012

SANG PENJUAL TEMPE.





Gigi Tanggal Bisa Ditumbuhkan Lagi

25 04 2009

22-Mar-2007, Kompas Cyber Gigi tanggal?

Jangan khawatir, untuk menumbuhkannya kembali bisa dilakukan dengan budidaya sel. Sebuah laboratorium di Jepang sanggup membuat gigi dari kumpulan sel yang dibudidayakan dan telah berhasil mencangkokkannya pada seekor tikus. Lagipula sel yang dipakai dari sel primitif, tidak harus sel induk yang sulit membuatnya dan masih terus dikembangkan sampai sekarang. Para peneliti menggunakan benih organ yakni sel-sel awal pembentuk gigi seperti sel epithelial dan mesenchymal. Sel-sel ini membentuk gumpalan kecil sebelum gigi tumbuh. Sel tersebut disuntikkan ke dalam segumpal kolagen sebagai material perekatnya. Setelah tumbuh, terlihat bahwa jaringan yang terbentuk mengandung struktur pembentuk lapisan-lapisan gigi seperti dentin, enamel, dental pulp, pembuluh darah, dan ligement periodental. Seperti dilaporkan dalam jurnal Nature Methods, gigi buatan tersebut tersusun sangat mirip dengan gigi yang tumbuh alami. “Benih gigi yang kami rekonstruksi menghasilkan gigi yang utuh. Gigi tersebut tumbuh dan berkembang normal ketika dicangkokkan ke tikus,” kata Takashi Tsuji dari Universitas Sains Tokyo di Chiba, Jepang. Ia mengklaim, ini merupakan metode pertama budidaya jaringan gigi yang hanya membutuhkan beberapa sel tunggal. Sebelumnya, para peneliti menggunakan sel induk untuk menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak seperti proses alami, termasuk gigi, dalam terapi regeneratif. Keberhasilan ini akan mempermudah terapi regeneratif untuk menumbuhkan kembali gigi yang rusak. Terapi ini berguna untuk orang-orang yang tidak tumbuh giginya atau tanggal karena penyakit atau usia.

Sumber: reuters

Penulis: Wah





Keterangan Tentang Obat Flu bukan penyebab perdarahan otak

19 04 2009

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
REPUBLIK INDONESIA

KETERANGAN PERS
TENTANG
PENJELASAN TERKAIT INFORMASI OBAT FLU DAN BATUK YANG MENGANDUNG
PHENYLPROPANOLAMINE (PPA)
NOMOR : KH.00.01.1.3.1673
TANGGAL 16 APRIL 2009

Menanggapi maraknya isu tentang informasi dari US FDA mengenai obat flu dan batuk yang mengandung phenylpropanolamine (PPA), Badan Pengawas Obat dan Makanan memberikan penjelasan sebagai berikut :

1. Tidak benar pada tanggal 1 Maret 2009 US-FDA mengeluarkan pengumuman tentang obat flu dan batuk yang mengandung PPA seperti diberitakan melalui sms dan email.
2. Saat ini tidak ada informasi baru terkait keamanan PPA. Pada Bulan November 2000 US-FDA menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungan antara perdarahan otak dengan penggunaan PPA dosis besar sebagai pelangsing.
3. Di Indonesia PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan batuk dan tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing.
4. Obat flu dan batuk yang mengandung PPA dan telah mendapat izin edar aman dikonsumsi sesuai aturan pakai yang telah ditetapkan.

Demikian penjelasan ini disampaikan untuk disebarluaskan kepada seluruh masyarakat.





Waspadai Gejala Komplikasi Diabetes pada Retina

23 03 2009
Kompas.com, Jumat, 20 Februari 2009 | 16:50 WIB

DIABETIC RETINOPATHY adalah sebuah kondisi komplikasi diabetes akibat rusaknya pembuluh darah pada jaringan sensitif mata bagian belakang (retina). Penyakit diabetes yang memengaruhi retina dapat berakibat hingga menyebabkan kebutaan.

Dr Ian Yeo Yew San, dokter mata yang menjabat sebagai konsultan di Singapore National Eye Centre yang tergabung dalam layanan wisata sehat, FlyFreeForHealth, mengatakan, “Ketika terkena diabetes, tubuh tidak memanfaatkan gula (glukosa) dengan tepat. Jika kadar gula darah terlalu tinggi, maka lensa alami mata akan membengkak—sehingga pandangan menjadi kabur. Nantinya, jumlah gula yang terlalu banyak tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil yang memberi nutrisi pada retina (capillary). Maka muncullah diabetic retinopathy.”

Pertanda dan Gejala
Pada tahap awal, diabetic retinopathy tidak memiliki gejala atau hanya menyebabkan gangguan mata ringan. Namun lama-kelamaan, bisa berujung pada kebutaan. Diabetic retinopathy biasanya memengaruhi kedua mata.

Gejala diabetic retinopathy meliputi :

• Bintik-bintik mengambang pada penglihatan
• Penglihatan kabur atau tidak fokus
• Garis-garis gelap atau merah yang menghalangi penglihatan
• Sulit melihat pada malam hari
• Penglihatan hilang sama sekali / buta

Pemeriksaan / Screening untuk Diabetic Retinopathy
Sebagai bagian dari tes mata, dokter Anda akan melakukan foto terhadap retina yang disebut dengan fluorescein angiography. Pertama-tama, dokter akan memperbesar pupil lalu memfoto bagian dalam mata. Lalu cairan warna khusus akan disuntikkan ke dalam urat nadi di lengan. Foto-foto lain akan diambil seiring dengan cairan warna yang mengalir dan mulai bersirkulasi pada mata. Dokter akan menggunakan foto-foto tersebut untuk melihat pembuluh darah mana yang tertutup, rusak ataupun bocor.

Dokter biasanya juga akan meminta Anda menjalani tes optical coherence tomography (OCT). Tes ini menghasilkan gambar-gambar pemeriksaan silang terhadap retina yang dapat menunjukkan ketebalan retina dan untuk mengetahui apakah cairan tersebut telah bocor ke dalam jaringan retina.

Dr Yeo menyarankan kepada pasien untuk mengendalikan diabetes dengan diet dan pengobatan untuk memperlambat atau mencegah pengembangan diabetic retinopathy atau komplikasi lainnya. Ada baiknya lakukan pemeriksaan mata setahun sekali.





Petunjuk bagi pasien untuk tes alergi (Skin Prick Testing)

19 02 2009

Menentukan penyebab alergi (alergen) dan menghindari alergen pencetus merupakan bagian penting dari pengelolaan penyakit alergi dan asma. Dokter anda biasanya akan menanyakan kepada anda beberapa pertanyaan untuk meng-identifikasi faktor-faktor yang ada di lingkungan anda yang dapat mencetuskan gejala-gejala reaksi alergi. Tes kulit membantu dokter anda untuk meng-konfirmasi sensitivitas anda sehingga dokter anda dapat memberikan nasehat yang sesuai untuk menghindari alergen tersebut. Selanjutnya dokter akan menyarankan kepada anda untuk melakukan tes alergi (skin prick testing) untuk membantu meng-konfirmasi atau menyingkirkan adanya sensitivitas. Hasil tes alergi dapat diperoleh dalam waktu 15 sampai 20 menit.

Persiapan tes alergi

Untuk mendapatkan hasil yang baik, anda harus memperhatikan beberapa hal sebelum tes alergi dilakukan.

1. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari sebelum tes alergi dilakukan, hentikan semua obat yang anda minum, karena beberapa jenis obat dapat mempengaruhi hasil tes. Bilamana ada keraguan, anda dapat berkonsultasi dengan dokter anda.

2. Tiga hari sebelum tes alergi dilakukan, hindarkan pemakaian krim dan pelembab pada lengan bawah anda.

3. Tiga hari sebelum tes dilakukan, jangan mengkonsumsi beberapa jenis makanan, sebagai berikut:

· Susu dan makanan yang mengandung susu, misalnya: kue, es krim, keju, dsb.

· Telur dan makanan yang mengandung telur, misalnya: mie, kue, dsb.

· Makanan yang berasal dari laut, misalnya: ikan, udang, terasi, kerupuk udang, petis, dsb.

· Biji-bijian dan kacang-kacangan, misalnya: emping melinjo, kacang tanah, kedelai, coklat, dsb.

· Ragi dan makanan yang diragikan, misalnya: tempe, tahu, kecap, tauco, tape ketan, bir, dsb.

· Makanan kaleng/makanan yang diawetkan.

· Semua buah-buahan, kecuali pepaya dan pisang.

· Makanan yang diperbolehkan hanya: nasi, daging sapi serta sayur-sayuran.

Bagaimana tes alergi tersebut dikerjakan

Tes tusuk kulit (skin prick testing) biasanya dikerjakan pada lengan bawah, kadang-kadang di punggung. Mula-mula lengan dibersihkan dengan alkohol, kemudian setetes ekstrak alergen yang diproduksi secara komersial diteteskan pada daerah kulit yang telah ditandai. Dengan menggunakan lancet steril, dilakukan tusukan kecil menembus tetesan tadi. Dengan cara ini sejumlah kecil alergen dapat memasuki kulit .

Jika anda alergi, maka akan tampak benjolan kecil menyerupai gigitan nyamuk pada tempat tusukan dalam waktu 15 – 20 menit Baca entri selengkapnya »





PENGANTAR REKAM MEDIS (MEDICAL RECORD)

18 02 2009

Dr. Sugijanto,SpM

SMF Penyakit Mata

RSUD Dr. R. Koesma Tuban

1. PENDAHULUAN

Sejarah awal istilah yang digunakan untuk menyebut catatan data–data pasien yang berkaitan dengan perawatan tesehatan adalah istilah patient record, kemudian lebih umum digunakan istilah medical record dan kemudian dibuat klasifikasi untuk berbagai jenis catatan atau rekaman data kesehatan seseorang.

Rekam medis perdefinisi adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan , pengobatan,tindakan medis dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.

Sedangkan sarana pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan baik rawat jalan maupun rawat inap yang dikelola pemerintah atau swasta, dengan sendirinya tenaga kesehatan dilibatkan dan sangat berperan serta dalam proses pelayanan tersebut.

2. TATA CARA PEYELENGGARAAN REKAM MEDIS

Setiap sarana pelayanan kesehatan yang melakukan rawat jalan atau rawat inap,wajib membuat rekam medis segera dan dilengkapi seluruhnya setelah pasien menerima pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab mengenai isi dan keamanan rekam medis.

2.1. Petugas yang membuat atau mengisi rekam medis :

a. Dokter umum,dokter spesialis ,

dokter gigi, dokter gigi spesialis.

b. Dokter tamu

c. Dokter residen yang sedang

melaksanakan kepaniteraan klinik.

d. Tenaga paramedic,tenaga paramedis

perawatan/non perawatan yang

langsung terlibat antara lain : perawat, perawat gigi, bidan,tenaga laboratorium klinik, gizi, anestesi, piñata rongent, rehabilitasi medik dsb.

e. Dalam hal dokter luar negeri yang

sedang melakukan alih teknologi kedokteran yang berupa tindakan medik atau konsultasi kepada pasien,yang harus membuat rekam medis adalah dokter yang ditunjuk oleh rumah sakit.

3. KETENTUAN PENGISIAN REKAM MEDIS

a. Setiap tindakan konsultasi paling lambat dalamwaktu 1 X 24 jam harus sudah ditulis dalam lembaran rekam medis.

b. Semua pencatatan harus ditanda tangani oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya sesuai kewenangannya dan ditulis nama terangnya, diberi tanggal dan jam.

c. Pencatatan yang dibuat oleh mahasiswa kedokteran dan mahasiswa lainnya ditandatangani dan menjadi tanggung jawab dokter yang merawat atau dokter pembimbing.

d. Catatan yang dibuat residen harus diketahui oleh dokter pembimbingnya.

e. Dokter yang merawat dapat memperbaiki kesalahan penulisan dan melakukan pada saat itu, serta dibubuhi paraf.

f. Penhapusan tulisan dengan cara apapun tidak diperbolehkan, seyogyanya dicoret dan diparaf.

4. ISI REKAM MEDIS

Isi rekam medis rawat jalan diusahakan lengkap paling tidak memuat identitas pasien, anamnesa, diagnosis dan tindakan/pengobatan.

4.1. Isi rekam medis rawat inap sekurang -kurangnya memuat :

a. Identitas pasien.

b. Anamnesa dan pemeriksaan fisik.

c. Diagnose masuk rumah sakit / diagnose kerja / diagnose

banding.

d. Hasil konsultasi medis/hasil pemeriksaan klinis oleh dokter yang merawat.

e. Komplikasi/penyulit,infeksi nosokomial, reaksi alergi, reaksi terhadap obat anestesi, penyakit lain dsb.

f. Pembuatan “Informed Consent” yang jelas, lengkap, rinci, singkat dan dimengerti oleh pasien atau keluarganya.

g. Semua instruksi oleh dokter yang merawat, laporan terapi, hasil lab, radiology, informasi petanda monitoring keadaan pasien.

5. ‘INFORMED CONSENT’

a. Informed Consent berarti suatu izin(consent) atau pernyataan setuju dari pasien yang diberikan dengan bebas dan rasional, sesudah mendapat informasi dari dokter dan yang sudah dimengertinya.

b. Manusia dewasa yang sehat rohaniah berhak sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan terhadap tubuhnya.Dokter tidak` berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan pasien. walaupun untuk kepentingan pasien itu sendiri.

c. Oleh karena itu semua tindakan medis (diagnostic, terapeutik, maupun paliatif) memerlukan informed consent secara lisan maupun tertulis.

d. Setiap tindakan medis dengan resiko cukup besar.harus ada persetujuan tertulis yang harus ditanda tangani oleh pasien,setelah sebelumnya dia memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta resiko yang berkaitan dengannya.

e. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan , baik diminta atau tidak. Menahan informasi tidak boleh , kecuali bila diberikan dapat merugikan kepentingan pasien.

f. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan, baik diagnostic, terapeutik maupun paliatif.Informasi biasanya diberikan secara tertulis atau lisan.

Informasi harus diberikan jujur dan benar, kecuali bila dokter menilai bahwa hal ini dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi yang benar kepada keluarga terdekat pasien.

g. Dalam hal tindakan bedah atau tindakan invasif lainnya, informasi harus diberikan sendiri oleh dokter yang bersangkutan.

h. Perluasan operasi yang dapat diduga sebelum tindakan dilakukan, tidak boleh dilakukan tanpa informasi sebelumnya kepada keluarga terdekat atau yang menunggu. Perluasan yang tidak dapat diduga sebelum tindakan dilakukan, boleh dilaksanakan tanpa informasi sebelumnya, bila perluasan operasi itu perlu untuk menyelamatkan pasien.

i. Informed Consent diberikan oleh pasien dewasa yang dalam keadaan sehat rohaniah.

j. Bagi orang dewasa yang berada dibawah pengampuan, informed consent diberikan oleh orang tua/curator/wali. Untuk yang dibawah umur dan tidak mempunyai orang tua/wali, informed consent diberikan oleh keluarga terdekat/induk semang (guardian)

k. Dalam hal pasien tiak sadar/pingsan, serta tidak didampingi oleh yang tersebut dalam butir j,dan secara medis dinyatakan gawat dan atau darurat, tidak diperlukan informed consent dari siapapun,semuanya menjadi tanggung jawab dokter.

l. Dalam pemberian persetujuan berdsarkan informasi tindakan medis dirumah sakit/klinik,maka rumah sakit/klinik yang bersangkutan ikut bertanggung jawab.

m. Bila ada pembatalan, dokter sekali lagi harus mengingatkan resiko pembatalan tersebut.

n. Bila pasien tetap menolak, minta pasien menandatangani surat penolakan (Informed Refusal ) dasar hukumnya adalah hak azasi pasien.

Baca entri selengkapnya »





KIAT MENGATUR POLA HAID SAAT HAJI DAN UMRAH

18 02 2009

dr H Rianto SpOG
SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD Dr. R. Koesma Tuban

1. PENDAHULUAN
Mengerjakan ibadah haji adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Berbeda dengan kaum lelaki, wanita muslim yang sedang haid tidak dibenarkan melakukan beberapa rukun dari ibadah haji, sesuai dengan Firman Allah tentang dasar hukum darah haid. Tetapi, kebanyakan kaum wanita masih sulit membedakan darah haid dan darah bukan haid. Darah haid adalah darah yang keluar dari rahim yang sehat, yang juga disebut darah kotor, sedangkan darah yang bukan haid adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita yang disebabkan oleh suatu penyakit, yang dalam ilmu kedokteran disebut sebagai perdarahan, atau istilah agama Islam disebut sebagai darah istihadah. Wanita yang sedang berdarah istihadah, dibenarkan baginya untuk melakukan kegiatan ibadah apapun, kecuali bersanggama. Berkat kemajuan ilmu, maka datangnya haid sudah dapat ditunda ataupun dimajukan sehingga kaum wanita dapat menjalankan semua rukun ibadah haji yang diwajibkan. Namun perlu ditekankan di sini, bahwa perbedaan antara perdarahan haid dan bukan haid serta prinsip penundaannya masih menimbulkan perbedaan pendapat.
Cara sederhana untuk menunda haid adalah dengan memberikan obat – obatan berupa tablet mengandung komponen progestin atau yang mengandung komponen progestin dan estrogen. Penggunaan preparat hormon untuk menunda haid dalam waktu singkat cukup aman dan jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Efek samping yang sering ditemukan adalah terjadinya perdarahan bercak (spotting), yang kaum wanita disebut sebagai “gagal”, sehingga merupakan halangan untuk melakukan ibadah. Padahal perdarahan tersebut terjadi akibat efek samping penggunaan hormon sehingga tidak membatalkan ibadah.
Penggunaan progestin hampir 50% menyebabkan perdarahan bercak sedangkan pada penggunaan kombinasi estrogen dan progestin, perdarahan bercak yang terjadi lebih sedikit. Karena perdarahan bercak yang terjadi tersebut tidak membatalkan ibadah maka tidak perlu dilakukan tindakan apapun. Sediaan lain yang jarang atau hampir tidak pernah menimbulkan perdarahan bercak adalah GnRH agonis (GnRHa) yang diberikan secara intramuskuler atau subkutan satu bulan satu kali.
Agar penundaan haid sesuai dengan yang diinginkan atau dengan kata lain tidak mengalami “kegagalan”, maka perlu diketahui cara penggunaan obat – obatan hormon tersebut.

Mekanisme Perubahan Pola Haid Pada Penggunaan Hormon
Progestin dan PKK (Pil Kontasepsi Kombinasi) merupakan preparat yang biasa digunakan untuk mengatur siklus haid saat ibadah haji atau umrah. Pemahaman fisiologi siklus haid dan terjadinya amenorea pada kehamilan sangat diperlukan agar usaha ini memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Tiga hal penting yang menjadi dasar adalah :
1. Estrogen dan progesteron berperan bersama pada endometrium saat siklus haid.
2. Umur korpus luteum sebagai penghasil estrogen dan progesteron endogen saat siklus haid tidak lebih 14 hari.
3. Jika terjadi kehamilan korpus luteum dipertahankan oleh hormon hCG sampai plasenta terbentuk.

Cara merubah pola haid
a. Memundurkan atau menunda haid
Yang paling mudah dilakukan dalam merubah pola haid adalah memundurkan / menunda siklus haid. Unutk tujuan ini dapat diberikan progestin atau pil kontasepsi kombinasi (PKK) mulai hari ke – 5 siklus haid atau paling lambat 14 hari sebelum siklus haid yang akan datang dan pemberiannya baru dihentikan ± 3 hari sebelum siklus haid yang diinginkan.
Pemberian progestin atau kombinasi estrogen dan progestin eksogen sejak awal siklus haid akan menekan gonadotropin, sehingga produksi estrogen dan progesteron endogen oleh ovarium tertekan. Hal ini menyebabkan endometrium tidak akan menebal dan dipertahankan untuk tetap stabil sehingga tidak terjadi haid sampai konsumsi obat dihentikan. Perdarahan lucut akan terjadi ± 3 hari setelah obat dihentikan. Perhatian harus diberikan terhadap lama waktu ibadah, karena ada yang panjang ± 40 hari, dan ada yang pendek sekitar 1 – 2 minggu, misalnya pada ibadah haji ‘plus’ atau umroh.
Bila progestin atau PKK diberikan 14 hari sebelum siklus berikutnya maka progestin atau PKK bersama – sama dengan estrogen dan progesteron yang dihasilkan korpus luteum akan mempertahankan lapisan endometrium untuk tetap stabil dan tidak terlepas. Perdarahan lucut akan terjadi setelah korpus luteum berdegenerasi dan progestin atau PKK dihentikan selama ± 3 hari.
Pemberian preparat progestin saja dapat menyebabkan efek samping perdarahan sela yang terjadi akibat lapisan endometrium yang terlalu tipis
b. Memajukan haid
Cara ini jarang sekali digunakan karena sebagian besar wanita ingin memundurkan siklus haidnya. Untuk tujuan ini dapat diberikan progestin atau PKK mulai hari ke – 5 siklus haid dan dihentikan pada hari ke – 19 sehingga siklus haid akan lebih cepat ± 7 hari dari biasanya.

Masalah Yang Terjadi Pada Penggunaan Hormon Dan Penanganannya

Baca entri selengkapnya »





Demam Typhoid

14 02 2009

Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi. Demam tifoid merupakan manifestasi dari adanya infeksi akut pada usus halus yang mengakibatkan gejala sistemik atau menyebabkan enteritis akut.1

Demam tifoid merupakan permasalahan kesehatan penting di banyak negara berkembang. Secara global, diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya. Kebanyakan penyakit ini terjadi pada penduduk negara dengan pendapatan yang rendah, terutama pada daerah Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Di Sulawesi Selatan, Indonesia. Demam typhoid merupakan salah satu dari penyakit infeksi terpenting. Penyakit ini endemik diseluruh daerah di provinsi ini dan merupakan penyakit infeksi terbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh 24 kabupaten. Di Sulawesi Selatan, typhoid merupakan penyebab terpenting terjadinya septisemia terkait komunitas, dengan insiden rate yang dilaporkan melebihi 2500/100.000 penduduk.2

Penyakit typhoid hanya terdapat pada manusia. Karier serotype typhi merupakan reservoir utamanya. Beberapa pasien dapat menjadi karier kronik selama bertahun-tahun, terutama karena infeksi kronik pada kelenjar empedu dan traktus billiaris ditemukan. Jika pasien dengan typhoid belum pernah berkunjung di daerah yang endemik, sumbernya pasti berasal dari pengunjung daerah pasien atau orang lain yang menyediakan makanan. Bakteri ini dapat tersebar melalui sumber air pada area daerah berkembang atau daerah yang mengalami kerusakan pada sistem saluran air bersih. Penyebaran melalui rute fekal-oral. Dosis infeksius adalah 105 hingga 106 dan berkurang jika terdapat antigen Vi kapsuler.3

Tanda dari demam typhoid adalah invasi dan multiplikasi bakteri Salmonella typhiii pada sel mononuklear fagositik pada hati, limpa, nodus limfe, dan peyer patches dari ileum. Setelah tertelan, organisme ini melalui traktus gastrointestinal bagian atas hingga ke usus halus, tempat bakteri ini menginvasi secara langsung atau berganda sebelum invasi. Sel M yaitu sel epitellial yang melapisi Peyer’s patches merupakan tempat potensial S.typhii untuk menginvasi dan sebagai portal transportasi menuju jaringan lympoid sekitar. Setelah penetrasi ini terjadi, organisme ini menuju ke folikel lymphoid usus dan nodus lymphe mesenterica. Salmonella dapat menghindari asidifikasi dari sel fagosom, sehingga dapat bertahan pada follikel lymphoid, nodus lymphoid, hati, dan limpa. Pada keaadan ini terdapat perubahan degeneratif, proliferatif, dan granulomatosa pada villi, kelenjar kript, dan lamina propria pada usus halus dan kelenjar lymphe mesenterica. Pada keadaan tertentu yang dipengaruhi oleh keadaan imun host, jumlah dan virulensi bakteri, akan terlepas dari habitat lingkungan intrasel usus dan masuk ke pembuluh darah sehingga akan memicu mediator yang akan memicu gejala klinis. 4

Mukosa yang nekrotik pada usus kemudian membentuk kerak, yang dalam minggu ketiga akan lepas sehingga terbentuk ulkus yang berbentuk bulat atau lonjong tak teratur dengan sumbu panjang ulkus sejajar dengan sumbu usus. Pada umumnya ulkus tidak dalam meskipun tidak jarang jika submukosa terkena, dasar ulkus dapat mencapai dinding otot dari usus bahkan dapat mencapai membran serosa.

Pada waktu kerak lepas dari mukosa yang nekrotik dan terbentuk ulkus, maka perdarahan yang hebat dapat terjadi atau juga perforasi dari usus. Kedua komplikasi tersebut yaitu perdarahan hebat dan perforasi merupakan penyebab yang paling sering menimbulkan kematian pada penderita demam tifoid. Meskipun demikian, beratnya penyakit demam tifoid tidak selalu sesuai dengan beratnya ulserasi. Toksemia yang hebat akan menimbulkan demam tifoid yang berat sedangkan terjadinya perdarahan usus dan perforasi menunjukkan bahwa telah terjadi ulserasi yang berat. Sedangkan perdarahan usus dan perforasi menunjukkan bahwa telah terjadi ulserasi yang berat. Pada serangan demam tifoid yang ringan dapat terjadi baik perdarahan maupun perforasi.1

Manifestasi klinis dan tingkat morbiditas demam typhoid bervariasi pada beberapa populasi yang diteliti. Sekitar 60 hingga 90 % pasien dengan demam tyhpoid tidak mendapatkan perhatian medis yang cukup atau diperlakukan sebagai pasien rawat jalan.

Setelah pasien menelan S.enterica serotype typhi, suatu periode asimptomatis akan terjadi yang biasanya selama 7 hingga 14 hari. Onset bakteremia ditandai dengan demam dan malaise. Pasien biasanya datang ke klinik atau rumah sakit pada akhir minggu pertama setelah onset gekala demam terjadi, gejala mirip influenza seperti menggigil, nyeri kepala bagian frontal, malaise, anorexia, nausea, nyeri abdominal yang tidak terlokalisir, batuk kering, dan myalgia namun dengan sedikit tanda fisik.5 Lidah kotor, nyeri perut, hepatomegali, dan splenomegali umum terjadi. Bradikardia relatif cenderung ditemukan pula akan tetapi pada banyak daerah tertentu bukan merupakan gejala yang umum didapatkan.1

Pada mulanya demam berderajat rendah, akan tetapi kemudian meningkat secara progresif dan pada minggu kedua menjadi lebih tinggi dan cenderung terus menerus (39 hingga 400C). Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) akan tetapi sering tidak terlihat pada pasien berwarna kulit gelap.5

Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi dan inkontinensia urin. Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen sangat meningkat diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps. Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin,gelisah,sukar bernapas dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid pada minggu ketiga.1

Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan demikia juga hanya menghasilkan kekebalan yang lemah,kekambuhan dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu yang pendek.Kekambuhan dapat lebih ringan dari serangan primer tetapi dapat menimbulkan gejala lebih berat daripada infeksi primer tersebut.Sepuluh persen dari demam tifoid yang tidak diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps.1

Walaupun yang paling berperan dalam penegakkan diagnosis typhoid adalah kultur darah positif, tes ini hanya menunjukkan positif pada 40 – 60% kasus. Biasanya pada perjalanan awal penyakit ini. Kultur urin dan tinja menjadi positif setelah infeksi pada akhir minggu pertama atau minggu kedua, akan tetapi sensitivitasnya sangatlah kecil. Pada kebanyakan negara berkembang, tersebarnya antibiotik secara meluas dan pemberian antibiotik merupakan kemungkinan alasan rendahnya sensitivitas kultur darah. Walaupun kultur sum-sum tulang lebih sensitif, pemeriksaan ini sulit dilakukan, karena relatif infasif, dan kurang dapat diterapkan pada pelayanan kesehatan umum. Kebanyakan pemeriksaan hematologik kurang begitu spesifik. Leukosit darah biasanya rendah, akan tetapi leukositosis dapat pula terjadi pada anak yang lebih muda.Thrombositopenia mungkin menjadi petanda beratnya penyakit. Tes fungsi hati dapat tidak normal akan tetapi disfungsi hati yang bermakna jarag terjadi. Pemeriksaan tes widal mengukur antibodi terhadap antigen O dan H dari S.typhi dan telah digunakan berpuluh-puluh tahun. Walaupun sepertinya sederhana dan mudah dikerjakan, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifitas yang kurang dan dengan hanya mengandalkan pemeriksaan ini biasanya menyebabkan overdiagnosis. Pemeriksaan diagnostik terbaru telah dikembangkan- seperti Typhidot atau Tubex yang secara langsung mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen spesifik S typhi – akan tetapi pemeriksaan ini tidak terbukti mudah dikerjakan pada evaluasi berskala besar pada komunitas. Reaksi rantai polimerase menggunakan H1-d primer telah digunakan untuk mengamplifikasi gen S typhi spesifik pada darah pasien dan merupakan alat yang menjanjikan untuk menegakkan diagnosis dengan cepat.2,6,7

Pada penelitian yang dilakukan oleh Herath, ditemukan pula teknik mendeteksi keberadaan S typhii dengan menggunakan teknik ELISA yang dikembangkan untuk saliva pasien (yang dapat diambil dengan metode non-infasif dan mudah dilakukan) sehingga akan didapatkan antibodi IgA terhadap S typhii. Pemeriksaan ini terbukti sangat sensitif, spesifik, dan efisien. Penelitian ini menyimpulkan pemeriksaan paling efisien dilakukan pada minggu kedua hingga ketiga setelah demam terjadi.8

Walaupun dengan adanya perkembangan diagnostik terbaru ini, diagnosis typhoid pada kebanyakan negara berkembang ditegakkan berdasarkan kriteria klinis. Hal ini dapat menimbulkan masalah, karena demam typhoid dapat menyerupai penyakit demam lainnya tanpa tanda yang khas. Pada anak dengan gejala multisistemik, stadium awal demam typhoid dapat dikaburkan dengan keadaan seperti gastroenteritis akut, bronkitis, dan bronchopneumonia. Selain itu diagnosis differensial yang luas mencakup malaria, sepsis akibat patogen lainnya, leptospirosis, dan penyakit rickets atau infeksi virus seperti demam dengue, hepatitis akut, dan mononucleosis infeksiosa. Sehingga dibutuhkan alat untuk mendeteksi dengan cepat dan spesifik terhadap beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demam. 6

Pemberian terapi antibiotik yang tepat akan mencegah beberapa komplikasi berat demam typhoid dan menurunkan angka kematian hingga <1%. Pemilihan antibiotik pertama bergantung pada tingkat endemik dari suatu lokasi. Untuk penanganan pasien yang sangat dicurigai mengidap typhoid, fluoroquinolones merupakan agen yang paling efektif, dengan angka penyembuhan hingga ~98% serta angka relaps dan karier <2%. Penggunaan ciprofloxacin telah banyak digunakan secara luas. Terapi ofloxacin jangka pendek sepertinya berhasil terhadap infeksi yang disebabkan oleh strain asam nalidixic. Akan tetapi karena terdapat resistensi terhadap terapi ini pada infeksi S Typhii di Asia serta ketersediaan fluoroquinolon pada apotik yang meluas, menyebabkan jenis antibiotik ini jarang digunakan.9

Ceftriaxon, cefotaxime, dan cefixime oral merupakan terapi efektif untuk demam tyhpoid yang multi-drug resistant. Antibiotik ini menghilangkan demam dalam waktu ~ 1 minggu, dengan angka kegagalan 5-10%, dan angka relas 3-6%. Walaupun secara efisien membunuh Salmonella secara in vitro, cephalosporin generasi pertama dan kedua begitupula aminoglikosida tidak efektif menangani infeksi klinis.9 Penanganan standard dengan chloramphenicol atau amixicillin terkait dengan angka relaps secara berturut-turut sebesar 5-15% atau 4-8% dimana quinolon jenis terbaru dan cephalosporin generasi ketiga terkait dengan angka penyembuhan yang lebih tinggi. Merebaknya typhoid multi drug resistence pada tahun 1990an mengakibatkan fluoroquinolon sebagai drug of choice untuk menangani pasien dengan suspek typhoid, terutama pada daerah Asia Timur dan Asia Tenggara dimana penyakit ini menjadi endemik.5,6

Secara teoritis, memungkinkan untuk mengeliminasi Salmonellae yang menyebabkan demam typhoid karena bakteri ini hanya bertahan pada manusia sebagai host dan menyebar melalui air atau makanan terkontaminasi. Akan tetapi, dengan tingkat prevalensi yang tinggi pada negera berkembang yang mempunyai lingkungan dengan saluran pembuangan air limbah dan sanitasi air yang buruk, pencegahan sepertinya sulit dicapai. Sehingga, pengunjung pada daerah seperti ini sebaiknya memperhatikan kebersihan makanan atau minuman secara hati-hati seperti sedapat mungkin menggunakan air minuman botol. Vaksinasi sebagai jalan untuk mencegah infeksi juga merupakan cara yang perlu dipertimbangkan. Terdapat dua jenis vaksin typhoid yang tersedia yaitu Ty21a dan Vi CPS, dengan bukti efektivitas sebesar 60-80% dan sebaiknya diberikan dua minggu sebelum bepergian ke daerah endemik.6,9

REFERENSI

1. Aru Sudoyo. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan
IPD FKUI.

2. Hatta M, Smits HL. 2007. Detection of Salmonella Typhii By Nested Polimerase
Chain in Blood, Urine, and Stools Samples. In :American Journal of Hygine and
Therapy [online].2007. [cited 12 November 2008]. Available from http://www.ajtmh.org

3. Ryan KJ, Ray CG. 2004. Sherris Medical Microbiology. Fourth edition. New York:
McGraw-Hill Medical Publishing Division. p365-366

4. Eipstein J, Hoffman S. Typhoid Fever. In: Tropical Infectious Disease Volume 1. Editors :
Guerrant RL, Walker DH. 2006. USA: Elsevier Churchill Livingstone

5. Parry CM, Hien TT. Typhoid Fever. In : New England Journal Of Medicine [online]. 2002.
[cited 10 November 2008]. Available from http://www.nejm.com.

6. Bhutta ZA. Current Concept in Diagnosis and Treatment of Typhoid Fever . In :
British Medical Journals [online]. 2006. [cited 11 November 2008]. Available from

http://www.bmj.com.

7. M Hatta, MG Goris, E Heerkens, J Gooskens, AND HL Smits. Simple dipstick assay for
detection of Salmonella typhi-specific IgM antibodies and the evolution of the
response in patients with typhoid fever. Am J Trop Med Hyg, Apr 2002;66:416- 421.

8. Herath HM. Early Diagnosis of Typhoid Fever by Detection of Salivary IgA. In
Journals Clinical Patology [online]. 2003. [cited 11 November 2008]. Available from

http://jcp.bmjjournals.com

9. Fauci, A, Braunwald, E and friends. 2008. Harrison’s Principles of Internal Medicine.
Seventeenth Edition. 2008. United States: The Mc.Graw-Hill Companies, Inc.

Diposkan oleh Husnul Mubarak di 07:19





Tuli Mendadak

11 01 2009

0leh : dr Supriyono SpTHT

Tuli mendadak atau sudden deafness merupakan keadaan emergensi di telinga, dimana telinga mengalami ketulian secara mendadak, kadang tanpa disertai keluhan, umumnya mengenai satu telinga dengan kehilangan pendengaran 30 dB atau lebih pada 3 frekuensi dan berlangsung selama kurang dari 3 hari. Dikatakan emergensi karena keadaan ini sering kali menetap, jika tidak diketahui cepat penyebabnya.

Tuli mendadak merupakan tuli sensorineural, umumnya unilateral dan dapat disertai tinitus dan vertigo. terjadinya secara progresif dalam beberapa detik sampai 5 -7hari. Penyakit ini rnemerlukan diagnosis sedini mungkin dan terapi segera sehingga prognosis menjadi lebih baik. Penyebab pasti kadang sulit untuk diketahui, umumnya diakibatkan gangguan pada saraf telinga ( pada rumah siput / koklea ) oleh berbagai hal seperti trauma kepala, trauma bising yang keras, infeksi virus, perubahan tekanan atmosfir dan adanya kelainan darah.,autoimun, obat ototoksik,Meniere dan neroma akustik

INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI

Kira-kira dari 15.000 laporan kasus ketulian mendadak diseluruh dunia setiap tahunnya 4000 diantaranya terjadi di AS. 1 dari 10.000 -15.000 orang akan mengalami hal ini, dimana insiden tertinggi antara usia 50-60 tahun. Sedangkan insiden terendah antara usia 20-30 tahun. 2 % dari pasien ketulian mendadak tersebut sifatnya bilateral da insidennya sama antara pria dan wanita.

ETIOLOGI

Penyebab pasti kadang sulit untuk diketahui, umumnya diakibatkan gangguan pada saraf telinga ( pada rumah siput / koklea ) oleh berbagai hal seperti trauma kepala, bising yang keras, infeksi virus, perubahan tekanan atmosfir dan adanya kelainan darah.,autoimun, obat ototoksik, sindroma Meniere dan neroma akustik .

Etiologi virus

Ketulian mendadak sensorineural ditemukan pada kasus-kasus penyakit MUMPS, measles, rubella, dan influenza yang disebabkan oleh infeksi adenovirus dan sitomegalovirus (CMV). Pemeriksaan serologis terhadap pasien dengan ketulian sensorineural idiopatik menunjukkan adanya peningkatan titer antibody terhadap sejumlah virus. Antara 25-30 % pasien dilaporkan dengan riwayat infeksi saluran nafas atas dengan kurang satu bulan onset kehilangan pendengaran.

Pemeriksaan histopatologi tulang temporal pasien yan mengalami ketulian mendadak menunjukkan adanya atrofi organ corti, atrofi stria vaskularis dan membran tektorial serta hilangnya sel rambut dan sel penyokong dari koklea.

Etiologi vaskuler

Pembuluh darah koklea merupakan ujung arteri (end artery), sehingga bila terjadi gangguan pada pembuluh darah ini koklea sangat mudah mengalami kerusakan, Pada kasus emboli, trombosis, vasospasme, dan hiperkoagulasi atau viskositas yang meningkat.terjadi iskemia yang berakibat degenerasi luas pada sel-sel ganglion stria vaskularis dan ligament spiralis. Kemudian diikuti oleh pembentukan jaringan ikat dan penulangan.

Ruptur membran labirin

Ruptur membran labirin berpotensial menyebabkan kehilangan pendengaran sensorineural yang tiba-tiba, membran basalis dan membran reissner merupakan selaput tipis yang membatasi endolimfe dan perilimfe. Ruptur salah satu dari membran atau keduanya dapat menyebabkan ketulian mendadak.

Penyakit autoimun pada telinga dalam

Ketulian sensorineural yang disebabkan oleh proses autoimun telinga dalam masih belum jelas, tapi aktivitas imunologik koklea menunjukkan fakta yang tinggi.

GEJALA KLINIK

Tuli dapat unilateral atau bilateral, dapat disertai dengan tinitus atau vertigo.

Pada infeksi virus, timbulnya tuli mendadak biasanya pada satu telinga, dapat disertai dengan tinnitus dan vertigo. Kemungkinan ada gejala dan tanda penyakit virus seperti parotis varisela, variola atau pada anamnesis baru sembuh dari penyakit virus tersebut. Pada pemeriksaan klinis/otoskopis tidak terdapat kelainan telinga.

Pemeriksaan pendengaran

Audiometri nada murni menunjukkan tuli sensorineural ringan sampai berat, Pemeriksaan audiometri tutur dan audiometri impedans menunjukkan tuli sensuri neural,foto temporal stenvers mencari kemungkinan neuroma akustik,

Tes Keseimbangan ENG ( electro nystagmography) mungkin terdapat paresis kanal.

PENATALAKSANAAN

Tirah baring (total bed rest), istirahat fisik dan mental selama dua minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang besar pengaruhnya pada keadaan kegagalan neurovaskuler.

Pengobatan

Koreksi terhadap penyebab.,misalnya bising, DM, peny vaskuler.

Obat2 yang sering dipakai :

-vasodilator yang cukup kuat misalnya complamin injeksi :

3 x 12000 mg/4 ampul selama 3 hari

3 x 900 mg 3 hari

3 x 600 mg 3 hari

3 x 300 mg 3 hari

disertai vasodilator oral complamin 3X 2 tablet tiap hari. Perlu dipertimbangkan vasodilator lain karena complamin sudah mulai kurang diproduksi

-kortikosteroid merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk mengobati ketulian sensorineural mendadak idiopatik.

-prednisone 4 x 10 mg tapering off tiap tiga hari, hati2 pd penderita DM.

-obat anti virus : asiklovir dan amantadin pengobatan pada etiologi virus.

- hiperbarik Oksigen. Terapi hiperbarik oksigen menggunakan 100% oksigen dengan tekanan 250 kPA selama 60 menit dalam ruangan tertutup.

-roborantia Vit C dan neurotropik

PROGNOSIS

Pada umumnya makin cepat diberikan pengobatan, makin besar kemungkinan untuk sembuh, bila lebih dari 2 minggu kemungkinan sembuh menjadi lebih kecil. Penyembuhan dapat sebagian atau lengkap, tetapi dapat juga tidak sembuh.

EVALUASI

Dilakukan tiap minggu selama 1 bulan

Hasil:

1. Sangat baik, bila perbaikan lebih 30 db pada 5 frequensi

2. Baik, bila 10-30 db pada 5 frekuensi

3. tidak ada perbaikan bila kurang 10 db pada 5 frekuensi

Bila gangguan pendengaran tidak sembuh dengan pengobatan di atas dapat dipertimbangkan alat bantu dengar.

Bila dengan alat bantu dengar masih belum bisa komunikasi dengan adekwat dilakukan psikoterapi agar penderita dapar menerima keadaan.

PROGNOSIS

Prognosis tergantung dari :

1. waktu onset

Penelitian menunjukkan bahwa semakin cepat pasien diobati maka semakin baik pula pemulihan yang dicapai. Bila lebih 2 minggu kemungkinan sembuh kecil

2. usia rata-rata

Rata-rata usia yang mengalami pemulihan sempurna adalah 41, 8 tahun. Usia kurang dari 15 tahun dan lebih dari 60 tahun memiliki masa pemulihan yang buruk.

3. vertigo

penderita dengan vertigo berat menunjukkan prognosis buruk dibanding pasien tanpa gejala vertigo. .

4. pasien dengan kondisi yang memperberat penyembuhan al DM, riwayat minum obat ototoksik lama, viskositas darah yang tinggi. Prognosis lebih buruk





Ejakulasi Bikin Pria Berumur Pendek?

11 01 2009

Bagi Anda yang pria jika mau awet muda, jangan sering ejakulasi. Demikian artikel yang saya baca di kompas.com. Berikut saya copykan di blog ini.

SELAMA hidupnya seorang pria rata-rata melakukan ejakulasi sebanyak 5.000 kali. “Bila setiap ejakulasi mengeluarkan 200 juta sperma, diperkirakan selama hidupnya ia menghasilkan 1 triliun sperma,” ungkap Dr Ferryal Loetan, ASC&T, Sp.RM, MKes.

Air mani atau semen yang dikeluarkan saat ejakulasi itu berisi vitamin, mineral, protein, dan kalori yang dibutuhkan sperma agar tetap gesit berenang melewati vagina untuk membuahi sel telur. “Sel prostat pada pria juga menghasilkan zat alkalin yang tugasnya menjaga supaya sperma bisa tetap hidup melewati vagina yang sifatnya asam,” kata konsultan seks yang sering tampil di Lativi ini.

Gara-gara urusan ejakulasi ini, usia harapan hidup pria jadi lebih pendek enam tahun dibandingkan dengan perempuan. “Sehabis ejakulasi, pria selalu kelelahan. Pasalnya, air mani yang jumlahnya sekitar 5 ml setiap ejakulasi itu mengandung zinc, selenium, protein, vitamin A, C, E, dan gula.

Terbuangnya berbagai zat gizi itu lewat ejakulasi menimbulkan rasa lelah, lemas, dan lapar berkepanjangan. Dilaporkan, energi yang terbuang saat berhubungan seks adalah sebesar 36 kalori atau setara dengan berlari sepanjang 1,5 km,” ujar Dr Loetan saat berbicara di peluncuran produk NuMEN Z.

Telur setengah matang dan susu telur madu jahe (STMJ) tampaknya menjadi pilihan yang pas untuk isi ulang zat-zat gizi yang dibuang tadi. “Telur memang mengandung banyak protein dan di dalamnya terdapat zat gizi seperti yang dibuang saat ejakulasi. Bila ingin mendapatkan semua zat gizi dalam telur, cara makannya harus dalam keadaan mentah. Pemanasan dapat mengurangi nilai gizinya,” kata Diah Kusuma Dewi, S.Si, Apt, dari farmakolog dari PT Navita Inti Prima.

Namun, kebiasaan mengasup telur setengah matang, apalagi yang berlebihan, bisa menyebabkan efek samping tak menyenangkan. Kadar kolesterol tinggi dalam telur bisa menyebabkan hiperkolesterol atau kolesterol berlebih. Kandungan avidin dalam telur juga bisa menimbulkan kebotakan. Kebiasaan makan telur mentah juga bisa menyebabkan penyakit tifus karena kulit telur mentah merupakan sarang kuman Salmonella.

Semakin sering melakukan ejakulasi, kata Dr Loetan, air mani akan semakin encer. “Jumlah air mani yang ideal adalah sebesar satu sendok makan. Kuantitas dan kualitasnya amat ditentukan oleh kualitas makanan yang diasup. Tentu harus mengasup gizi seimbang, gaya hidup yang sehat tanpa rokok dan alkohol, apalagi narkoba. Kemudian tidur cukup, rajin berolahraga, dan menghindari polusi,” paparnya.
Diyah Triarsari








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.